deteksiriau.com - Pekanbaru - Heni Oktavia, S.E, mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, SE., MM., memilih kontrak psikologis sebagai fokus kajiannya dalam memahami hubungan kerja modern. Ia melihat bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada kontrak tertulis, tetapi juga pada harapan dan persepsi karyawan mengenai perlakuan, keadilan, dan masa depan mereka di tempat kerja. Sebagai karyawan di sektor jasa profesional, Heni menilai bahwa pemenuhan kontrak psikologis sangat memengaruhi kepuasan dan loyalitas karyawan.(13/01/2026)
Menurut Heni, persoalan utama muncul ketika ekspektasi karyawan mengenai ketepatan penggajian, kejelasan aturan, peluang karier, dan konsistensi kebijakan tidak sejalan dengan kemampuan organisasi. Ketidaksesuaian ini sering menimbulkan persepsi pelanggaran kontrak psikologis. Dampaknya terlihat pada turunnya motivasi, komitmen, dan kepercayaan, meskipun secara hukum tidak ada kontrak yang dilanggar.
Untuk memahami dinamika tersebut, Heni menggunakan Teori Kontrak Psikologis dari Argyris dan Rousseau. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan kerja dibangun atas persepsi timbal balik antara karyawan dan organisasi. Pelanggaran tidak selalu berupa janji tertulis yang diingkari. Pelanggaran dapat muncul dari harapan yang tidak terpenuhi atau kewajiban yang dipersepsikan tidak dijalankan.
Sebagai gagasan profesional, Heni mengusulkan agar fungsi sumber daya manusia lebih aktif mengelola ekspektasi melalui komunikasi yang jelas, realistis, dan konsisten. HR perlu menghindari janji implisit, menyampaikan keterbatasan organisasi secara terbuka, dan memastikan bahwa kebijakan dipahami secara seragam. Pendekatan ini diyakini dapat membangun hubungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dalam pandangan Dr. Chandra Bagus sebagai masyarakat sekaligus peneliti Ilmu Manajemen, ketika dimintai pendapat Heni, gagasan ini memberikan kontribusi penting karena mampu menjelaskan persoalan yang sering terjadi tetapi jarang dibahas secara terbuka. Dr. Chandra mengapresiasi keberanian Heni mengangkat isu kontrak psikologis yang selama ini dianggap abstrak, namun sangat mempengaruhi motivasi dan loyalitas karyawan. Ia juga memberi catatan kritis bahwa organisasi perlu lebih konsisten dalam komunikasi, memperjelas ekspektasi sejak awal, dan menghindari pernyataan yang dapat ditafsirkan sebagai janji. Menurutnya, hubungan kerja yang sehat tumbuh dari komunikasi yang jujur, adil, dan manusiawi. (Hen)
















Tidak ada komentar: